December 16, 2015

Tiga Puluh

0 comment
Halo Kamu,
hari ini waktu menandaimu di bilangan itu. 
Masa dimana untukmu, sederhana menjadi begitu mahal. 
Masa dimana rengekan bertransformasi menjadi negoisasi
dan pejam hanya berusia dua jam. 

November 27, 2015

Father and Son

0 comment
Father : I was once like you are now
and I know that it's not easy
to be calm when you've found something going on

take your time, think a lot
think of everything you've got
for you will still be here tomorrow
but your dreams may not

November 23, 2015

Undeniable Proof

2 comment
Sejak kecil, saya selalu bercerita banyak hal kepada Mama tentang guru-guru saya. Saya menceritakan bagaimana mereka mengajar, bertutur kata, bercanda, marah, dan hal-hal menarik lain yang tersimpan dan berkesan dalam ingatan. Tak semua guru saya bahas dan ceritakan. Mama akan selalu memperhatikan guru mana saja yang paling banyak saya ceritakan padanya. Beliau lalu berkata, diantara bawang-bawang yang sedang teriris rapi di meja dapur : "Kamu cerita Ibu ini terus? pasti kamu cocok ya dengan caranya ngajar?"

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa garuk-garuk kepala. Karena saat itu, saya juga tidak tahu apa alasannya.

November 13, 2015

Tentang Pilihan

0 comment
Orang bilang hidup adalah pilihan. Ini kalimat sakti populer yang sering didengungkan dimana-mana. Kalimat ini juga kerap dijadikan pembenaran bagi sebagian orang yang kurang mau memperbaiki diri. Misalkan : "Merokok itu pilihan", "menjadi alay itu juga pilihan", atau mungkin "tidak mandi itu pilihan", dan lain sebagainya.

Kalau saya bilang : Pilihan adalah hidup.

Manusia baru akan berhenti memilih, ketika ia mati. Jadi, selama kita masih bernafas, pilihan selalu ada pada setiap episode kehidupan, setiap tahap kedewasaan, setiap hari, mulai dari hal kecil yang sepele hingga hal besar yang berpotensi membuat rambut kita rontok satu-persatu.

Ada kalanya kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, berat, atau bahkan menakutkan. Tapi toh kita tetap harus memilih. Supaya kedua kaki kita tahu, kemana mereka harus melangkah. Supaya kita tidak terlalu lama berhenti di persimpangan lalu tersingkir pelan-pelan oleh individu lain yang jauh lebih bernyali dan memiliki determinasi.

June 22, 2015

Sebab Akibat

3 comment
Mungkin, pepatah legendaris yang harus segera ditinjau dan direvisi adalah pepatah : "Time is Money".

Gara-gara pepatah itu, hampir seluruh umat manusia bersemangat dan berlomba untuk mengonversi waktu yang telah mereka habiskan dengan sejumlah uang. Saya tidak sedang bermaksud mengatakan bahwa kecenderungan tersebut merupakan hal salah. Ndak kok. Uang tetaplah menjadi konversi yang paling masuk akal, wajar, dan manusiawi, utamanya bagi individu-individu yang sudah berkeluarga.

Kita membutuhkannya untuk membeli lauk-pauk dan sayur-mayur, diapers dan pembayaran SPP sekolah anak-anak. Kita juga memerlukannya untuk kelengkapan 'maju mundur cantik' nya si Istri, untuk mendukung 'tongkrongan' si Suami, angsuran rumah, bahan bakar kendaraan bermotor dan tabungan. Bahkan untuk sekadar menikmati wedang ronde dan keripik melinjo bersama keluarga di pedagang kaki lima, saat akhir minggu tiba.

Semua itu perlu alat tukar. Dan sayangnya, alat tukar yang disepakati saat ini adalah uang. Kecuali kita bisa membayar SPP anak-anak dengan 5 kilo beras. Itu mungkin agak menarik.

November 22, 2013

Reuni

0 comment
sepertinya aku merindukanmu

kamu, kekasihku, yang tak seorang pun boleh cemburu
tak juga dia atau mereka

datanglah, aku menunggumu di tempat biasa
kita akan bertukar cerita atau sekadar duduk berdua
menikmati hari yang menua

melukisnya dalam kata

May 14, 2013

Melambatkan Waktu di Sembalun

6 comment
Kadang, sebagai manusia, kita ingin waktu dapat melambat. Sedikit saja. Keinginan itu niscaya akan menguat ketika dua orang manusia telah menjadi pasangan. Lebih kuat pangkat dua saat pasangan itu telah memiliki keturunan.

Ya, setidaknya, itu terjadi pada kami. Kesibukan saya dan suami, serta keriuhan putra kami yang sedang menikmati tahap pertumbuhan, sukses melahap habis waktu luang kami sebagai suami istri. Hingga di tengah hiruk-pikuk kami setiap hari, saya sering berdoa, semoga suatu saat ada hari dimana waktu sudi melambatkan diri.

Akhir pekan lalu, doa saya yang mungkin juga menjadi doa suami, terkabul sudah. Kami berdua berkesempatan mengunjungi Sembalun, Lombok Timur. Altair sengaja tidak ikut serta. Di samping kondisinya yang baru saja pulih dari sakit, rute perjalanan yang ekstrim, kami memang sedikit mengambil keputusan egois ini demi sebuah judul : 'Waktu Berdua yang Lambat'.

Altair bukanlah sebab. Kami sekadar butuh ruangan untuk menangkap oksigen ekstra, perlahan. Jauh dari ketergesaan, di antara proses belajar kami menjadi orang tua.

View perbukitan Rinjani
Dan disinilah kami, akhir pekan lalu; Sembalun, desa yang pasrah terbentang di lembah Rinjani. Udara dingin dan bersih, kecantikan, dan tradisionalitas masyarakatnya membantu mengurai benang kusut di otak kami. Sembalun membelai jiwa kami yang kelelahan. Sembalun mengajari kami untuk kembali bersyukur, sekalipun terhadap hal paling sederhana.

View pagi hari di penginapan

Saya sempat tersenyum dalam hati, karena di desa ini, waktu sedang murah. Saya habiskan waktu dengan duduk santai di kursi rotan teras penginapan, meletakkan kepala di bahu suami, menyantap kudapan, dan memandangi perbukitan Rinjani yang seksi. Suami sempat mencandai saya : "Kita ini kayak kakek-nenek yang sudah punya cucu 10 orang saja ya, Umi?". Entahlah, kalau saja saya ini truk pengangkut pasir, di Sembalun saya merasa tangki bahan bakar saya terisi penuh. 

View dari Penginapan, Bale Geleng, dan Jalan menuju Sembalun Lawang
Ada banyak gambar yang diambil Suami melalui kamera digital kami. Beberapa diantaranya saya sertakan disini sebagai informasi visual bagi kawan-kawan yang gemar melakukan perjalanan liburan. Perjalanan hanya ditempuh kurang lebih selama 3,5 jam dari Mataram. Gambar terakhir di pojok kanan atas adalah Bale Geleng. Bangunan tradisional ini berfungsi ganda, sebagai ruang bersantai di bawah, juga sebagai ruang tidur di atas.

Jadi, selamat merencanakan liburan ke Sembalun, ya. Semoga para jiwa yang lelah dapat 'mandi' kemudian kembali cerah :)

March 23, 2013

Bacalah

0 comment
Ada halaman baru di blog ini, namanya Belajar. Saya rancang demi mempermudah proses belajar saya dan kita semua. Anda, para mahasiswa dapat mengunduh setiap dokumen yang telah saya unggah disana, berdasarkan berbagai referensi yang saya dapatkan.

Tampaknya masih banyak kekurangan, tapi semoga tidak mengurangi hasrat kita untuk melangkah maju. Setidaknya satu langkah. Syukur-syukur beberapa langkah. Lebih syukur lagi jika tak lagi melangkah, tapi berlari. Kencang. Lalu kencang sekali.

Jadi, selamat belajar bersama. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

March 05, 2013

Penghuni Pagi

0 comment

Hari minggu kemarin, ketika pagi masih muda, kami mengunjungi pantai. Bukan Senggigi, bukan pula Kuta. Sekadar pantai terdekat dari tempat tinggal kami. Orang sini (Mataram) bilang, Pantai Mapak, namanya.

Sekadar bersantai, melepas penat seminggu. Menjadikan pagi itu hanya dihuni oleh kami, keluarga kecil yang sedang belajar berdiri.