November 22, 2013

Reuni

0 comment
sepertinya aku merindukanmu

kamu, kekasihku, yang tak seorang pun boleh cemburu
tak juga dia atau mereka

datanglah, aku menunggumu di tempat biasa
kita akan bertukar cerita atau sekadar duduk berdua
menikmati hari yang menua

melukisnya dalam kata

May 14, 2013

Melambatkan Waktu di Sembalun

5 comment
Kadang, sebagai manusia, kita ingin waktu dapat melambat. Sedikit saja. Keinginan itu niscaya akan menguat ketika dua orang manusia telah menjadi pasangan. Lebih kuat pangkat dua saat pasangan itu telah memiliki keturunan.

Ya, setidaknya, itu terjadi pada kami. Kesibukan saya dan suami, serta keriuhan putra kami yang sedang menikmati tahap pertumbuhan, sukses melahap habis waktu luang kami sebagai suami istri. Hingga di tengah hiruk-pikuk kami setiap hari, saya sering berdoa, semoga suatu saat ada hari dimana waktu sudi melambatkan diri.

Akhir pekan lalu, doa saya yang mungkin juga menjadi doa suami, terkabul sudah. Kami berdua berkesempatan mengunjungi Sembalun, Lombok Timur. Altair sengaja tidak ikut serta. Di samping kondisinya yang baru saja pulih dari sakit, rute perjalanan yang ekstrim, kami memang sedikit mengambil keputusan egois ini demi sebuah judul : 'Waktu Berdua yang Lambat'.

Altair bukanlah sebab. Kami sekadar butuh ruangan untuk menangkap oksigen ekstra, perlahan. Jauh dari ketergesaan, di antara proses belajar kami menjadi orang tua.

View perbukitan Rinjani
Dan disinilah kami, akhir pekan lalu; Sembalun, desa yang pasrah terbentang di lembah Rinjani. Udara dingin dan bersih, kecantikan, dan tradisionalitas masyarakatnya membantu mengurai benang kusut di otak kami. Sembalun membelai jiwa kami yang kelelahan. Sembalun mengajari kami untuk kembali bersyukur, sekalipun terhadap hal paling sederhana.

View pagi hari di penginapan

Saya sempat tersenyum dalam hati, karena di desa ini, waktu sedang murah. Saya habiskan waktu dengan duduk santai di kursi rotan teras penginapan, meletakkan kepala di bahu suami, menyantap kudapan, dan memandangi perbukitan Rinjani yang seksi. Suami sempat mencandai saya : "Kita ini kayak kakek-nenek yang sudah punya cucu 10 orang saja ya, Umi?". Entahlah, kalau saja saya ini truk pengangkut pasir, di Sembalun saya merasa tangki bahan bakar saya terisi penuh. 

View dari Penginapan, Bale Geleng, dan Jalan menuju Sembalun Lawang
Ada banyak gambar yang diambil Suami melalui kamera digital kami. Beberapa diantaranya saya sertakan disini sebagai informasi visual bagi kawan-kawan yang gemar melakukan perjalanan liburan. Perjalanan hanya ditempuh kurang lebih selama 3,5 jam dari Mataram. Gambar terakhir di pojok kanan atas adalah Bale Geleng. Bangunan tradisional ini berfungsi ganda, sebagai ruang bersantai di bawah, juga sebagai ruang tidur di atas.

Jadi, selamat merencanakan liburan ke Sembalun, ya. Semoga para jiwa yang lelah dapat 'mandi' kemudian kembali cerah :)

March 23, 2013

Bacalah

0 comment
Ada halaman baru di blog ini, namanya Belajar. Saya rancang demi mempermudah proses belajar saya dan kita semua. Anda, para mahasiswa dapat mengunduh setiap dokumen yang telah saya unggah disana, berdasarkan berbagai referensi yang saya dapatkan.

Tampaknya masih banyak kekurangan, tapi semoga tidak mengurangi hasrat kita untuk melangkah maju. Setidaknya satu langkah. Syukur-syukur beberapa langkah. Lebih syukur lagi jika tak lagi melangkah, tapi berlari. Kencang. Lalu kencang sekali.

Jadi, selamat belajar bersama. Selamat membaca. Semoga bermanfaat.

March 05, 2013

Penghuni Pagi

0 comment

Hari minggu kemarin, ketika pagi masih muda, kami mengunjungi pantai. Bukan Senggigi, bukan pula Kuta. Sekadar pantai terdekat dari tempat tinggal kami. Orang sini (Mataram) bilang, Pantai Mapak, namanya.

Sekadar bersantai, melepas penat seminggu. Menjadikan pagi itu hanya dihuni oleh kami, keluarga kecil yang sedang belajar berdiri.

March 31, 2012

Petuah 'Bijak' Setelah Anda Melahirkan

5 comment
Ada beberapa percakapan menarik antara saya dan mama serta saya dan Ibu mertua, setelah saya melahirkan Fatih, putra pertama kami. Sebagai wanita yang lebih dulu menjadi Ibu, beliau berdua adalah pihak yang paling sering memberi petunjuk dan petuah pada saya. Walaupun terkadang, petuah mereka terdengar asing, aneh, dan sedikit menyeramkan. Tapi ya sudahlah, toh saya percaya, mereka hanya bermaksud memberikan yang terbaik untuk saya dan keluarga. Maka saya berusaha patuh, meskipun akal sehat saya belum dapat mencerna semuanya.

Ini adalah beberapa contoh potongan percakapan kami yang entah mengapa semuanya bernada ancaman. Mengerikan, sekaligus menggelikan.

Ruang bersalin, beberapa menit setelah melahirkan. Badan lemas, ngantuk tingkat nasional.
Saya : "Aku ngantuk, Ma"
Mama : "Eh, jangan tidur dulu, nanti bablas. Nanti aja tidurnya, setelah kamu mandi!"

Kamar rawat inap. Beberapa jam setelah melahirkan. 
Ibu : "Putri, nanti kalau tiduran, bantalnya agak ditinggikan, Nak"
Saya : "Kenapa ya, Bu?" (dasar saya kurang suka kalau harus tidur dengan bantal terlalu tinggi)
Ibu : "Supaya darah putihnya ndak naik ke kepala"
Saya : "Oh gitu. Kenapa Bu kalau darah putihnya naik?"
Ibu : "Nanti kamu bisa buta. Bisa gila juga..."
Saya : "..."

March 28, 2012

12.03.2012

2 comment
Engkau adalah guru yang mengajariku terus bertumbuh,
menjadi Ibu

Syukur tanpa hingga kepada Tuhan

Dia menitipkanmu, mungkin sebagai hadiahku
maka biarkan aku mencintaimu
sebaik-baik cara makhluk mempersembahkan cinta

Selamat datang, Anakku
Altair Fatih Muhammad

Ranjang Bersalin,
Senin, 12 Maret 2012, 06.17 WIB

November 14, 2011

Isyarat

4 comment
Aku menikmati wajahmu yang terpantul sempurna oleh lantai keramik beranda rumah, diam-diam.

Pagi belia ini bernama Minggu, kita kembali duduk berdua, dengan kau di ujung timur dan aku di ujung barat. Sesekali kubuang pandang pada para rumput gajah dan tanaman hias Ibu yang masih segar terkecup embun pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau dapati sedang memandangi pahatan yang Tuhan kerjakan pada parasmu. Pekerjaan yang menurutku sempurna, tegas, damai, dan menyenangkan. Kau masih ditemani ranselmu, kali ini tak seraksasa ransel tempo hari, mungkin kau menggantinya. Bibirmu bergerak tenang, bercerita tentang apa saja yang kau ketahui dengan baik dan belum pernah kuketahui sama sekali. Kau selalu menoleh ke arahku  sembari mengulas senyum setiap satu kalimatmu selesai, dan setiap kali itu pula, konsentrasiku mendadak bubar jalan. Aku terlalu sibuk mendidik mata supaya mereka tak terlalu berbinar riang, menatapmu.

Seekor kucing belang tiga melintas di depan pagar. Ah, sepertinya dia sedang menyeringai nakal, menertawakan muka gugupku. Sialan.

September 20, 2011

Jejaring Sosial, Dunia yang Berevolusi

5 comment
Dunia berubah. Tepatnya, diubah. Kita semua telah mengubahnya dengan penuh sukacita dan mungkin tanpa kesadaran yang genap. Dunia kita tampaknya sudah bukan lagi berupa dimensi ruang, dengan tanah sebagai tempat berpijak dan langit luas sebagai tempat menengadah, memompa harapan. Dunia kita juga tidak lagi mewujud sebagai sesuatu yang mampu kita kenali dengan enam macam panca indera. Dunia yang begitu detil dan rinci telah terlalu banyak direduksi menjadi terlalu mini.

Semakin hari, ia terasa seperti makanan cepat saji. Instan, kilat, dan mudah. Bahkan terlalu mudah. Bagi kita, cukuplah dunia  berupa deretan status rekan-rekan, album berisi ratusan foto di berbagai kesempatan, atau kicauan spontan teman-teman dan publik figur. Kita hidup di dalamnya dan setiap hal kecil dilaporkan, diperlihatkan. Skala kepentingan pun turut bertukar posisi. Sesuatu yang penting menjadi kurang penting, begitu pula sebaliknya. Ketidakpentingan justru mampu menempati posisi pertama dalam laporan-laporan kita disana. Kesannya, semakin tidak penting maka kita akan semakin populer, lucu, dan mengasyikkan.

Demikian, tampaknya dunia tiga dimensi telah lama terjajah oleh teknologi komunikasi bernama jejaring sosial.

September 13, 2011

4 September

4 comment
Bersamamu adalah menjelajahi telaga 
membiarkan sampan kayu sederhana mencumbu airnya
membuat mereka berkecipak bahagia

Bersamamu adalah berbaring santai di tepi
memandangi para tebing bergelayut mesra pada langit
menyilakan rimbun ranting dan dedaunan menyaring sinar matahari
menjadikan ia menyembur tertib lalu memantul cantik di permukaan airnya

Bersamamu adalah menikmati gerimis bernyanyi lamat-lamat
mencandai rerumputan dan membuatnya beraroma
mengundang pelangi bertunas di palung tebing
untuk mengajarku tentang keindahan sinergi warna-warni

Bersamamu adalah sebuah kesederhanaan megah
 jernih yang tumpah ruah
hening yang senantiasa mewah

Selamat ulang tahun, Bi
aku mencintaimu
dan semoga Tuhan mengijinkanku tetap begitu
esok, lusa, kemudian seterusnya

Berbahagialah menapaki usia demi usia
lalu biarkan aku turut menua
saling menertawakan keriput di muka
namun tak juga jemu bertukar kecup mesra
mengabadikan kita
4 September 2011,
Regards